Melacak Jejak Umaro dan Umari, Sejarah Kirim Bulus di Kudus

Juru Kunci Petilasan Mbah Dudo, tengah memberi makan untuk bulus (Foto : CWO)

Kudus, zonanews.id – Tradisi kirim bulus masih dilakoni masyarakat Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus hingga sekarang.

Tradisi kirim bulus ini merupakan tradisi turun temurun yang dipercaya memiliki kesakralan sendiri bagi masyarakat setempat.

Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat yang memiliki hajat atau nadzar. Kemudian memberi “panganan” atau nasi berkat untuk bulus yang ada di petilasan Mbah Dudo di dukuh setempat.

Bacaan Lainnya

Diceritakan oleh Juru Kunci Petilasan Mbah Dudo, Dasih (73 tahun), bahwa tradisi kirim bulus tidak lepas dari dua murid Mbah Dudo. Mbah Dudo sendiri adalah salah satu tokoh penyebar agama islam dan seorang ahli nujum yang bernama Syekh Subakhir.

Syekh Subakhir dikenal dengan nama Mbah Dudo atau beberapa orang menyebutnya Sayyid Hasan atau Joko Samudro.

“Awalnya daerah Sumber adalah hutan belantara. Kemudian datang seorang ahli nujum Syekh Subakhir, yang ingin menyebarkan agama Islam khususnya di daerah ini. Dan mendirikan padepokan yang sekarang dikenal dengan dukuh Sumber,” papar Dasih

Bersama kedua muridnya Umaro dan Umari, mereka membabat alas untuk singgah dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar.

Selain membuat padepokan untuk mempermudah penyebaran agama Islam, Mbah Dudo beserta kedua muridnya bercocok tanam untuk kelangsungan hidup.

Pada suatu malam bulan puasa, Umaro dan Umari diperintahkan gurunya untuk “daud” atau mencabuti benih padi yang akan ditanam. Sebagai bakti murid kepada guru, perintah itu dilaksanakan tanpa sangsi.

Padahal sejatinya pekerjaan ini biasa dilakukan kala matahari terang-terangnya. Namun karena Mbah Dudo merasa kasihan kalau pekerjaan itu dilakukan di siang hari saat berpuasa, maka malam hari adalah waktu yang tepat.

Baca :  Khawatir Tergerus Zaman, Akhwan Ajak Nguri-Uri Budaya Jawa dengan Pagelaran Wayang Kulit

Kemudian, dari arah selatan, Sunan Muria melakukan perjalanan menuju Pati untuk menghadiri pertemuan Walisongo. Sunan Muria pun bersilaturahmi ke padepokan Mbah Dudo.