Muhammadiyah melakukan dengan cara-cara yang persuasif melalui gerakan kultural dengan menggugah kesadaran. Tema Muktamar 48 di Solo “memajukan Indonesia dan mencerahkan semesta” adalah sebuah gagasan yang membutuhkan tekad yang kuat.
Perjalanan Panjang Muhammadiyah di usianya yang ke 110 merupakan bagian dari goresan literasi peradaban modern. Sejarah panjang Muhammadiyah dengan para tokohnya tidak akan hilang begitu saja karena dokumentasi yang kuat sehingga layak menjadi sejarah pergerakan non-kekuasaan yang ikut berkiprah memajukan umat dan bangsa ini.
Peranan Sosial politik Muhammadiyah yang sangat besar telah dijadikan sebagai bagian dari sejarah perjalanan bangsa. Bukan hanya KH Ahmad Dahlan yang bergelar Pahlawan Nasional namun para tokoh-tokoh pemimpin Muhammadiyah terdahulu seperti KH. Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusuma.
Dimulai dari perasaan alami bahwa seseorang yang memimpin, harus terlebih dulu melayani. Jauh sebelum Robert Greenleaf mencetuskan Ide Tentang Servant Leadership, Muhammadiyah telah mempraktekannya dalam gerakan bermisi dakwah.
Sampai sekarang Muhammadiyah dan ortomnya mampu membangun berbagai amal usaha baik pendidikan, kesehatan, pantai sosial dan juga ekonomi dalam jumlah yang banyak.
Banyaknya amal usaha muhammadiyah adalah cermin dari gerakan amal kebajikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam prosesnya di butuhkan peran manajerial untuk menjadikan Amal usaha Muhammadiyah lebih maju lagi.
Para Kader Muhammadiyah senantiasa di didik di persyarikatan untuk berpikir lebih maju. Saat ini para kader muda Muhammadiyah telah banyak yang lulus dari universitas terkemuka baik dalam dan luar negeri.
Pemikiran-pemikiran para kader muda tersebut banyak yang menghiasi khasanah pemikiran intelektual di negeri ini, baik dalam kolom opini di surat kabar maupun buku yang juga diterbitkan. Pemikiran pemikiran kaum muda tersebut merupakan basis literasi pengembangan Muhammadiyah secara kontemporer.
Diharapkan khasanah pemikiran-pemikiran kontemporer Muhammadiyah menjadi basic literasi bagi generasi penerus, baik di tingkat pusat maupun ranting terutama generasi pemudanya.
Pengembangan literasi di Muhammadiyah harus terus digalakan dalam bentuk penguatan berliterasi kader Muhammadiyah. Majelis Pustaka dan Informasi juga memanfaatkan berbagai forum untuk menggiatkan literasi sebagai bagian dari lintas sejarah membangun Muhammadiyah sesuai konsep tema muktamar memajukan Muhammadiyah mencerahkan semesta.
Ada beberapa situs yang dikelola oleh generasi muda Muhammadiyah, di antaranya IBTimes.ID, Tajdid.id, Madrasahdigital.co, Santricendekia.com, Pustakamu.id, Masa-kini.id. Banyaknya media ini menunjukkan bahwa makin meningkatnya budaya literasi di kalangan anak muda Muhammadiyah.
Sebab, jika dilihat dari penulis yang ada di situs tersebut merupakan kader Muhammadiyah, bahkan tidak hanya lingkup Muhammadiyah, tetapi meluas karena dari beberapa situs tersebut memang ditujukan kepada khalayak.
Geliat literasi para kader muda tersebut akan memberikan dorongan yang kuat bagi perjalan persyarikatan dengan berbagai gagasannya. Pendirian Universitas Siber Muhammadiyah adalah bukti nyata bagaimana Muhammadiyah membaca situasi zaman melalui digitalisasi kelembagaan, itulah yang dinamakan pembaharuan amal usaha Muhammadiyah sebagai ide-ide pembaharuan pendiri Muhammadiyah KH.Ahmad Dahlan.
Tantangan Perubahan
Diskursus pergerakan Muhammadiyah saat ini sedang di uji dengan berbagai tantangan global. Pandemi covid 19 merupakan ujian bagi Muhammadiyah. Bagaimana literasi fatwa-fatwa Muhammadiyah terasa aneh bagi jamaah persyarikatan dan lingkungannya.
Bagaimana Muhammadiyah menyikapi situasi pandemi dengan penyelenggaraan Sholat Jum’at & Sholat Idul Fitri berada di rumah masing-masing dengan tujuan supaya masjid tidak menjadi tempat penyebaran virus yang mematikan tersebut.
Sikap-sikap fatwa tarjih tersebut terasa ambivalen dengan kenyataan lapangan. Namun muhammadiyah tidak bergeming terus melihat jauh ke depan akan bahaya covid 19 bagi masyarakat. Literasi berkemajuan membuat Muhammadiyah mampu meneropong berbagai tantangan zaman dengan sains dan keislaman.
Sistem Penanggalan hijriyah dalam metode hisab juga bagian dari literasi berkemajuan muhammadiyah. Sehingga hari raya Idul Fitri maupun hari raya Idul Adha di persyarikatan bisa serentak dan mudah diprediksi.
Geliat peradaban dunia yang kini diwarnai dengan kecanggihan digital yang masuk dalam berbagai sendi kehidupan bagi Muhammadiyah adalah penyemangat untuk terus maju mengabdi bagi negeri ini dan umat Islam.
