Slametan Bubur Asyura Masjid Menara Kudus, Simbol Kenang Sedekah Nabi Nuh Saat Banjir Bandang

Sejumlah panitiya saat mempersiapkan bubur Asyura di kompleks Masjid Menara Kudus (Foto: syum)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Setiap malam tanggal 10 Muharam, seluruh umat Islam di Indonesia melangsungkan doa bersama dan tasyakuran menyambut hari Asyura. Kegiatan ini biasanya identik dengan sajian bubur suro atau bubur Asyura.

Untuk diketahui, bubur asyura merupakan bubur yang dibuat untuk mengenang kisah peristiwa Nabi Nuh As ketika terjadi banjir bandang.

Sedekah atau tasyakuran yang dilakukan Nabi Nuh bersama umatnya ketika banjir bandang diwujudkan dalam masakan berupa bubur Asyura.

Bacaan Lainnya

Humas Panitia Buka Luwur, Muhammad Kharis menjelaskan bahwa para sesepuh dulu mempercayai bahwa bubur Asyura itu untuk mengenang bancaan.

“Saat itu ketika Nabi Nuh selamat dari banjir besar, kemudian dirinya memberikan perintah kepada sahabatnya untuk memasak bahan-bahan yang ada. Bahan itulah yang kemudian menjadi bubur Asyura,” kata Kharis, Kamis 27 Juli 2023.

Masyarakat Jawa, termasuk di Kudus kemudian melestarikannya dengan menggelar selametan setiap malam tanggal 10 Muharram.

“Kata Asyura sendiri berasal dari bahasa arab yang artinya sepuluh. Mendekati tanggal 10 suro, dilaksanakan selametan bubur asyuro,” terang Kharis.

Baca :  Ratusan Sopir Truk di Kudus Bakal Unjuk Rasa Besok, Ini Tuntutannya